Jadi Hotel No. 1 Dunia, Kemenpar Akan Kembangkan Kawasan Nihiwatu Sumba


224439_817632_Menpar

Menteri Pariwisata Arief Yahya (kedua kiri) dan Bupati Sumba Barat Agustinus Niga Dapawole (kedua kanan) di Balairung Soesilo Soedarman, Kemenpar, Jakarta, Senin (18/7). FOTO: Fandi Permana/JPNN.com

 

JAKARTA – Terpilihnya Nihiwatu Hotel Sumba sebagai hotel terbaik dunia lewat “World Best Awards” versi Majalah Travel + Leisure, kembali mengharumkan Pariwisata Indonesia di pentas dunia.

Menurut data yang dirilis Biro Hukum dan Komunikasi Publik, Kementerian Pariwisata, Senin (18/7), Nihiwatu meraih skor tertinggi 98.35 mengalahkan hotel-hotel bertaraf internasional. Di antaranya The Spectactor di Charleston, South Carolina 97.78 dan Huka Lodge di Taupe, New Zealand 97.65. Selain Nihiwatu, The St. Regis Bali Resort, Nusa Dua, Bali berada di peringkat 35 hotel terbaik dunia dengan skor 96.22.

Resor yang terletak di Desa Hobawawi, Wanukaka, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur ini terpilih karena menjadi sebuah destinasi dimana petualangan aktif dan kemewahan mutlak dipadukan dengan serasi bersama dengan unsur-unsur budaya lokal. Hotel ini berada di sebuah lingkungan yang eksotis dan otentik.

“Dilihat dari daftar pemenang, trend pariwisata saat ini menuju ke ecotourism yang melestarikan budaya lokal. Sebetulnya, di Indonesia banyak hotel yang menerapkan konsep ini. Saya bangga Nihiwatu menjadi contoh sukses ecotourism yang saat ini kita coba terapkan di Indonesia,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya, dalam jumpa pers di Balairung Soesilo Soedarman, Senin (18/7).

Dalam jumpa pers turut hadir pula managing partner Nihiwatu, James McBride. Ia menyatakan bahwa penobatan ini merupakan sesuatu yang sangat membanggakan bagi masyarakat Indonesia khususnya di Kabupaten Sumba Barat.

Menurutnya, penobatan Nihiwatu sebagai Resor Terbaik di Dunia menjadi momen yang membanggakan tidak hanya bagi Nihiwatu, tetapi juga untuk masyarakat Sumba dan bangsa Indonesia.

“Kami memperluas pemahaman kami mengenai persepsi umum akan sebuah ‘resor surgawi’, dan kini telah menciptakan sebuah destinasi yang memiliki rekam jejak geografi yang kuat, dengan ruang gerak yang sangat luas, yang memungkinkan para tamu untuk berkelana di alam liar Pulau Sumba,” kata James McBride, Managing Partner Nihiwatu.

Untuk menunjang sarana ecotourism yang lebih baik lagi, Arief Yahya berjanji akan bekerja sama dengan Kemenpupera untuk memperbaiki akses jalan di Sumba Barat.

“Tentunya kita akan terus tingkatkan ecotourism di Nihiwatu dengan memperbaiki sarana-sarana vital seperti akses jalan dan transportasi. Untuk itu Kemenpar akan segera berkoordinasi dengan Kemenpupera untuk memperbaiki jalan dan fasilitas-fasilitas penunjang agar Nihiwatu bisa dinikmati seluruh wisatawan utamanya wisatawan domestik,” tambah Arief.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *